Pilar Keberkahan yang Mengalirkan Kebaikan di Setiap Lapisan Masyarakat

Pilar Keberkahan yang Mengalirkan Kebaikan di Setiap Lapisan Masyarakat

Sedekah, sebagai bentuk kebaikan dan kemurahan hati, telah menjadi nilai fundamental dalam agama-agama besar, termasuk Islam. Dalam Islam, sedekah bukan sekadar tindakan kebajikan, tetapi juga merupakan perintah Allah SWT yang membawa keberkahan kepada orang yang memberi dan yang menerima. Artikel ini akan membahas makna sedekah, filosofi di baliknya, serta dampak positifnya terhadap masyarakat dan individu.

I. Makna Sedekah dalam Islam

Sedekah berasal dari akar kata “sadaqah” yang berarti kebenaran dan kejujuran. Dalam Islam, sedekah bukan hanya berupa pemberian harta, tetapi juga mencakup segala bentuk kebaikan yang dapat membantu sesama. Al-Quran dan Hadis mengajarkan tentang pentingnya sedekah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai keberkahan hidup.

II. Filosofi Sedekah

  1. Pengorbanan dan Kepedulian: Sedekah mencerminkan sikap pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama. Dengan memberikan sebagian harta kepada yang membutuhkan, seseorang menunjukkan bahwa kekayaan bukanlah tujuan utama, melainkan alat untuk menciptakan keseimbangan sosial.
  2. Pembersihan Hati: Sedekah tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan hati pemiliknya. Dengan melepaskan kecintaan berlebih pada materi, seseorang membuka diri untuk mencapai kedamaian batin.
  3. Ujian dan Ketaqwaan: Sedekah juga merupakan ujian bagi keikhlasan dan ketaqwaan seseorang. Seberapa besar kemampuan untuk memberikan tanpa mengharapkan balasan menunjukkan kedalaman iman dan hubungan dengan Allah.

III. Bentuk-bentuk Sedekah

  1. Sedekah Harta: Pemberian harta dalam bentuk uang, barang, atau aset lainnya kepada yang membutuhkan. Dalam Islam, zakat juga merupakan bentuk sedekah wajib yang memiliki perhitungan tersendiri.
  2. Sedekah Ilmu: Membagikan pengetahuan dan keterampilan kepada orang lain, menjadi bentuk kontribusi yang bernilai dalam membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan.
  3. Sedekah Waktu dan Tenaga: Mendedikasikan waktu dan tenaga untuk membantu orang lain, baik melalui kerja sosial, relawan, atau memberikan dukungan moral.

IV. Dampak Positif Sedekah

  1. Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat: Sedekah memiliki potensi untuk mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan berdaya.
  2. Peningkatan Kebersamaan: Tindakan sedekah menciptakan ikatan sosial yang kuat, memperkuat solidaritas antarindividu dan kelompok masyarakat.
  3. Keberkahan Finansial: Paradoksnya, memberi lebih banyak justru membuka pintu rezeki yang lebih besar. Keberkahan finansial dapat dirasakan oleh individu yang gigih dalam berbuat baik.

Sedekah bukan sekadar tindakan kebaikan, tetapi juga sebuah filosofi hidup yang melibatkan kepedulian, pengorbanan, dan kedalaman iman. Melalui sedekah, kita dapat merajut kesejahteraan bersama dan merasakan keberkahan hidup. Masyarakat yang kaya akan budaya sedekah akan menjadi masyarakat yang berdaya, adil, dan penuh keberkahan. Sehingga, mari kita terus mengamalkan sedekah dalam setiap langkah hidup kita, membawa sinar kebaikan kepada dunia ini.

12 Keutamaan bagi Penghafal Alquran

12 Keutamaan bagi Penghafal Alquran

Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Salah satu tujuannya, untuk menjadi pegangan dan dasar petunjuk kehidupan bagi umat Muslim.

Membaca, mendengarkan, mempelajari, dan mengamalkan Alquran tentu akan mendapatkan kemuliaan tersendiri dari Allah SWT. Apalagi, bisa menghafal Alquran.

KH Ahsin Sakho Muhammad dalam bukunya (Menghafalkan Al-Quran, 2017) mengungkapkan 12 keutamaan bagi penghafal Alquran. Berikut 12 keutamaan bagi penghafal Alquran:

Pertama, mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam pandangan Allah SWT. Hal ini dikarenakan, seseorang yang menghafal Alquran sudah pasti mencintai Kalamullah (perkataan Allah), sedangkan Allah sangat mencintai mereka yang cintai pada kalam-Nya.

Kedua, penghafal Alquran akan meraih banyak sekali pahala. Kiai Ahsin Sakho menjelaskan, setiap huruf Alquran jika dibaca seseorang mendapatkan 10 pahala. Sedangkan jumlah huruf Alquran, sebagaimana disebutkan Imam Sayuthi dalam al-Itqan adalah 671.323 huruf.

‘’Maka bisa dibayangkan berapa juta pahala yang dihasilkan ketika seseorang penghfal Alquran berulang kali membaca ayat-ayat Alquran,’’ kata KH Ahsin Sakho dalam bukunya tersebut.

Ketiga, penghafal Alquran yang menjunjung tinggi nilai Alquran dijuluki dengan ‘’Ahlullah’’ yang berarti keluarga Allah atau orang yang dekat dengan Allah. Hal ini juga sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW.

Dari sahabat Anas bin Malik RA. Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘’Sesungguhnya bagi Allah ada orang yang terdekat dengannya.’’ Kemudian, sahabat bertanya ‘’Siapa mereka ya Rasul?’’ Nabi menjawab, “Mereka adalah ahlul Qur’an. Mereka itulah keluarga Allah dan orang-orang yang terdekat dengan-Nya.’’

Keempat, Nabi Muhammad SAW pernah menyegerakan penguburan sahabat yang meninggal dunia dalam perang Uhud, yang hafalannya lebih banyak daripada lainnya.

‘’Ini adalah penghargaan bagi mereka yang menghafal Alquran,’’ sambungnya.

Kelima, Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabat agar yang menjadi imam sholat adalah mereka yang paling bagus membaca Alquran, sekaligus juga menghafalnya. Menurut KH Ahsin Sakho, Nabi telah menghantarkan para penghafal Alquran dalam jabatan yang mulia yaitu menjadi pemimpin saat sholat.

‘’jika penghafal Alquran sudah diberi tempat yang mulia oleh Nabi. Maka dia bisa mengembangkan diri untuk bisa berkiprah lebih jauh lagi dalam membimbing masyarakat,’’ jelasnya.

Keenam, Nabi menjanjikan bahwa orang tua yang memiliki anak penghafal Alquran akan diberikan mahkota oleh Allah SWT pada hari kiamat nanti. Mahkota tersebut memiliki cahaya yang lebih indah daripada cahaya matahari yang menerangi kediaman mereka di dunia.

Ketujuh, kata KH Ahsin Sakho, penghafal Alquran telah mengaktifkan sel-sel otaknya yang berjumlah miliaran melalui kegiatan menghafal. KH Ahsin Sakho menuturkan, kegiatan ini berpotensi untuk menjadikan otaknya menjadi semakin kuat dan cerdas.

‘’Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika dilatih terus menerus akan menjadi kuat,’’ tambahnya.

Kedelapan, lanjutnya, penghafal Alquran termasuk orang-orang terdepan dalam menjaga keaslian, kemurnian dan kelestarian kitab suci Alquran.

Kesembilan, KH Ahsin Sakho mengatakan, bahwa seseorang yang menghafal Alquran dan selalu membaca ayat-ayat suci Alquran akan menciptakan dirinya sebagai manusia yang saleh.

‘’Getaran bacaan Alquran akan mempengaruhi sel-sel tubuhnya, sehingga akan menciptakan DNA (Deeoxyribonucleic) atau asam deoksiribonukleat, yaitu sel-sel pembawa genetika seseorang,’’ ujarnya.

Oleh karena itu, DNA yang dibawa oleh hafizh Alquran besar kemungkinan positif. Selain iu, KH Ahsin Sakho menerangkan bahwa hal ini atas seizin Allah juga akan mempunyai keturunan yang saleh pula.

Kesepuluh, penghafal Alquran akan mendapatkan syafaat Alquran pada hari kiamat. Alquran akan terus mengawal ‘’Shahib’’nya semenjak dari kubur sampai masuk surga.

Syimir bin ‘Athiyyah berkata: Pada hari kiamat, Alquran datang menjelma seorang laki-laki yang kurus kering dengan muka pucat pasi. Ia datang ke seseorang yang dibangkitkan dari kuburnya. Lelaki itu berkata, ’’Bergembiralah kamu dengan penghormatan dari Allah, bergembiralah kamu dengan keridaan Allah.’’

Orang itu bertanya, ’’Apakah orang sepertimu memberi kabar gembira? Siapa kamu?’’ kemudian dia menjawab, ’’Akulah Alquran yang menjadikan kamu selalu bergadang pada malam hari (untuk membaca Alquran), dan menjadikan kamu haus pada siang hari (karena berpuasa).’’

Kesebelas, penghafal Alquran yang selalu muraja’ah (mengulang hafalannya), ia sebenarnya tengah melakukan olahraga otak dan lidah. Pada saat itu, otaknya akan berjalan bagai kumparan yang terus-menerus bergerak.

‘’Hal ini sangat bermanfaat bagi Kesehatan otak dan urat Sharaf lainnya,’’ ungkapnya.

Kedua belas, karena Alquran adalah kitab ‘’Mubarak’’ yang penuh berkah atau tempat menumpuknya kebaikan. KH Ahsin Sakho mengatakan, informasi yang dihafal dalam otaknya adalah kalam Allah yang penuh kesucian dan kemuliaan.

Untuk itu, para penghafal Alquran akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya. Tidak hanya itu, Allah SWT juga akan memberikan penghargaan di dunia sebelum penghargaan di akhirat.

Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya Mendapatkannya

Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya Mendapatkannya

Melaksanakan perintah Allah Ta’ala merupakan bagian dari bukti kebaikan iman seorang hamba. Begitu pula dalam hal meninggalkan larangan Allah Ta’ala. Belajar dan menuntut ilmu syar’i untuk mengetahui tata cara melaksanakan perintah Allah sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan izin Allah kini mudah kita lakukan. Begitu pula tentang hal-hal yang menjadi larangan Allah, sungguh kita dengan mudah dapat mengetahuinya.

Para dai dan ulama ahlusunah yang berpegang teguh pada jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menjalankan misi dakwah lillah kini pun dengan mudahnya dapat kita temui, baik secara langsung maupun melalui jaringan teknologi. Dengannya, kita mudah memperoleh ilmu syar’i, mengetahui perbedaan hak (kebenaran) dan batil, serta menjadi pribadi muslim yang berpegang teguh dengan prinsip-prinsip agama yang kokoh, insyaAllah.

Namun, dalam perjalanan kehidupan ini, tentunya kita dihadapkan dengan berbagai ujian keimanan yang selalu membisikkan keburukan dalam hati kita, baik dari sisi jin maupun manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ¤ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ¤ إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ ¤ مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ¤ ٱلَّذِی یُوَسۡوِسُ فِی صُدُورِ ٱلنَّاسِ ¤ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)

Iman dan takwa dalam praktik amalan hamba
Kadangkala, kita hanya fokus dengan mengerjakan perintah Allah, kemudian merasa sudah istikamah dalam melaksanakannya. Sementara kita lupa bahwa ada aspek lain yang juga kita diperintahkan untuk istikamah, yaitu meninggalkan segala larangan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Itulah dua definisi takwa yang sering terabaikan.

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

“Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakanlah kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman.’, lalu istikamahlah!’” (HR. Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi no. 2410; Ibnu Majah no. 3972)

Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita tentang keistikamahan yang didahului dengan ikrar keimanan. Iman merupakan amalan hati di mana pembuktiannya tidak terlihat karena yang mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Kaitannya dengan definisi takwa di atas adalah bahwa pembeda antara ketaatan dan kemaksiatan adalah keimanan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Jami’ Al-Masail berkata,

الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص

“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang.”

Dengan kata lain, keistikamahan itu sangat tergantung pada kualitas iman yang kadang bertambah dan berkurang. Maka, apabila kita menginginkan keistikamahan dalam ketaatan, hendaklah kita perhatikan kondisi keimanan kita, lalu memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan karunia iman yang kokoh.

Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)

Dua anugerah agung
Saudaraku, kesadaran bahwa kita sangat membutuhkan iman yang kokoh dan keistikamahan takwa adalah anugerah yang agung dari Allah Ta’ala, syukurilah hal tersebut. Karena betapa banyak orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa mengetahui kesalahan yang sedang ia lakukan. Parahnya, ia menikmati kemaksiatan tersebut tanpa menyadari bahwa Allah Ta’ala sedang memberikan ujian kepadanya hingga bertumpuklah dosanya. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memberikan istilah bagi orang tersebut dengan sebutan “istidraj”. Wal-‘iyadzu billah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan dilihat dari jalur lain)

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Saudaraku, tidak ada yang menginginkan menjadi hamba yang terkena ujian istidraj. Tetapi kenyataannya, banyak manusia yang terjerumus dalam ujian tersebut dan sulit untuk bangkit dari jurang kemaksiatan. Wal-‘iyadzu billah.

Oleh karenanya, iman dan takwa merupakan dua anugerah agung yang sangat berarti bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Pikirkanlah dua hal ini setiap saat, dan lakukanlah hal-hal untuk memperoleh iman yang kokoh dan keistikamahan takwa, serta jagalah dua anugerah agung ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam ajarkan dalam sunahnya.

Upaya mendapatkannya
Maka dari itu, sekali lagi. Mohonlah anugerah keimanan yang kokoh dan keistikamahan takwa kepada Allah Ta’ala. Selain itu, dengan ikhlas dan mutaba’ah, lakukanlah sebab-sebab mendapatkan dua hal tersebut. Jadilah hamba Allah yang dicintai oleh-Nya.

Ber-taqarrub dengan Allah Ta’ala dengan melakukan amalan-amalan sunah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bagian dari upaya mendapatkan dua anugerah agung tersebut.

Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)

Saudaraku, Allah Ta’ala tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Maka yakinlah serumit apapun kehidupan yang engkau jalani saat ini di mana hal itu menjadi alasanmu untuk mempertahankan jarakmu dengan Rabbmu, sungguh jalan menuju kecintaan dan keridaan Allah Ta’ala itu terbuka lebar.

Praktikkanlah pesan hadis di atas sebagai ikhtiarmu untuk mendapatkan dua anugerah agung (iman yang kokoh dan keistikamahan takwa) itu. Berprasangka baiklah kepada Allah Ta’ala bahwa engkau akan mendapatkan kemudahan dalam meniti jalan menuju surga-Nya.

Wallahu a’lam

Apa itu Zakat, dan Apa pula Perbedaannya dengan Infak, dan Sedekah ?

Apa itu Zakat, dan Apa pula Perbedaannya dengan Infak, dan Sedekah ?

Saat ini kita sudah memasuki bulan Sya’ban, sebagai moment untuk pemanasan dan persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Banyak anjuran dari para ulama, untuk fastabiqul khairat, dikarenakan pada bulan ini ada momentum penting yakni dilaporkannya semua catatan harian amalan seseorang.

“Menempatkan sesuatu pada tempatnya”. Ungkapan tersebut menjadi sangat penting untuk dipahami dan dilakukan oleh setiap orang dalam setiap hal, karena ungkapan tersebut tidak bisa lepas dari hukum sebab – akibat. Ketidaktepatan ketika menempatkan suatu istilah dapat berakibat pada kesalahan atau pelanggaran, dan fatalnya bisa berakibat hukum yang tidak diinginkan. Tidak terkecuali dalam hal kewajiban ber- Zakat. Jangan sampai ketika kita beranggapan bahwa kita sudah melaksanakan kewajiban mengeluarkan zakat, akan tetapi ternyata hanya bernilai infak atau sedekah, sehingga kewajiban kita membayar zakat belum tertunaikan. Dengan demikian menjadi sangat penting pula bagi setiap muslim untuk bisa menguasai ilmu tentang Zakat, sehingga dapat membedakan antara Zakat, Infak dan Sedekah (Shadaqah).

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengajak bersama menelaah (meskipun ringkas) terkait perbedaan antara Zakat, Infak dan Sedekah.

Bagi umat Islam istilah zakat, infak dan sedekah (ZIS) sudah tidak asing lagi, apalagi Zakat termasuk salah satu kewajiban yang termaktub dalam Rukun Islam. Secara umum, ketiganya sudah dimengerti : “sebagai perbuatan pemberian atau dukungan dalam bentuk uang kepada pihak lain dengan menyisihkan sebagian rizkinya “. Kebanyakan dari kita tidak begitu paham, bahwa sesungguhnya ada perbedaan makna yang signifikan dari ketiga istilah tersebut.

Di dalam Al-Qur’an memang tidak ada perbedaan istilah antara zakat, infak dan sedekah. Karena al-Qur’an seringkali menggunakan kata “shodaqoh” yang sebenarnya dimaksudkan adalah “zakat” sebagaimana tercantum Surat Attaubah ayat 103:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“ Ambillah *zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah Kemenag 2019, QS. 9:103).

* Zakat membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebihan terhadap harta.

Demikian pula penyebutan “infak” terhadap perintah “zakat” seperti tertulis dalam surat  Al Baqarah ayat 267 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu tidak mau mengambilnya, kecuali dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Terjemah Kemenag 2019, QS. 2:267).

Namun demikian dalam banyak hadits ternyata ada makna yang menjelaskan perbedaan dari ketiga istilah tersebut (zakat, infak dan sedekah). Kemudian, apa sebenarnya perbedaan dari ketiganya ?

Berikut adalah penjelasan sekilas mengenai perbedaan antara zakat, infak dan sedekah :

ZAKAT

Menurut bahasa, zakat bisa ditilik dari bahasa Arab, kata zakā, yang berarti suci, tumbuh dan berkembang. Dengan makna bahasa tersebut (yakni  “suci, tumbuh dan berkembang”), menurut Ibnu Hajar Al ‘Asqalani sesuai tinjauan syariat, maka itulah yang akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan pada harta (termasuk pula dalam perdagangan – pertanian) dan pahala  yakni membersihkan atau mensucikan. Sedangkan menurut terminologi syariah, zakat berarti sebagian harta yang wajib diserahkan kepada orang-orang tertentu (fakir, miskin, mualaf, orang yang terlilit hutang, sabilillah, memerdekakan budak, orang dalam perjalanan, dan amil zakat) dalam waktu tertentu.

Definisi zakat  juga tertuang dalam Undang-undang No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Disebutkan pada Pasal 1, zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariah Islam.

Adapun secara istilah, makna zakat dalam syariat Islam ialah arti seukuran tertentu beberapa jenis harta, yang wajib diberikan kepada golongan-golongan tertentu, dengan syarat-syarat yang tertentu pula. Wajib dikeluarkan bagi  seorang Muslim yang berakal, baligh, dan merdeka. Zakat adalah kewajiban rutin tahunan yang harus dikeluarkan atas dasar standar tertentu dalam batas waktu yang ditentukan. Penyaluran zakat hanya untuk pihak penerima (mustahik) dengan kriteria yang terbatas yakni 8 golongan (ashnaf), merujuk pada firman Allah dalam al Quran Surat Attaubah ayat 60 :

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” (Terjemah Kemenag 2019, QS. 9:60).

Seorang Muslim yang berzakat (muzaki) pun hanya berkewajiban ketika telah memenuhi kriteria tertentu. Hanya orang beragama Islam dengan kriteria tertentu yang bisa tergolong sebagai mustahik atau muzaki. Pengelola zakat (amil) memiliki hak sebesar 1/8 dari nilai zakat untuk keperluan biaya operasional pengelolaan zakat.

Zakat terbagi menjadi dua yaitu Zakat Fitrah dan Zakat Mal.

Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dibayarkan oleh setiap orang islam (baik laki laki maupun perempuan, tua maupun muda, kaya maupun miskin, merdeka atau hamba sahaya) sejumlah 1 Sha’ atau  senilai 3,5 liter atau 2,5 kilogram (ukuran tergantung jenis) bahan makanan pokok, pada bulan suci Ramadan.

Zakat Mal adalah harta yang wajib dikeluarkan seorang muslim dari rizeki yang diperolehnya, baik melalui profesi, usaha pertanian, perniagaan, hasil laut, pertambangan, harta temuan, hasil ternak, emas, dan perak dengan besaran (nisab) yang telah ditentukan dan waktu dimiliki penuh selama setahun (haul).

INFAK

Dari sisi etimologi, infak berasal dari kata anfaqa yang yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta.  Menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam (seperti : menafkahi keluarga, membantu dana untuk yatim piatu, fakir – miskin, menyumbang untuk operasional masjid, atau menolong orang yang terkena musibah).

Sifat hukum dari infak, menurut beberapa pendapat adalah : PertamaFardlu ‘Ain yakni berlaku dalam hal menafkahi anak, isteri dan orang yang dalam tanggungannya (keluarga); KeduaFardlu Kifayah, yaitu suatu kewajiban bagi sekelompok orang untuk melaksanakan perintah Allah SWT sesuai ketentuan syariat, namun bila seudah dilaksanakan oleh seseorang atau beberapa orang maka kewajiban ini gugur.   Misal: mengisi uang ke kotak amal untuk operasional dan perawatan masjid adalah infak, bukan sedekah. Amalan itu hukumnya fardlu kifayah.  Sebab bila tidak ada yang menyumbang maka kegiatan masjid tidak jalan, dan hal itu menjadi tanggung jawab masyarakat sekitar masjid, semuanya berdosa; KetigaSunnah yakni pemberian sesuatu (materi) kepada siapapun tanpa ada ketentuan wajib atau syarat – syarat khusus yang mengaturnya.

Jika zakat ada nishabnya, infaq tidak mengenal nishab. Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan waktu dan besaran harta yang dikeluarkannya sebagai cerminan kadar keimanan seseorang. Dalam al-Qur’an perintah Infaq ditujukan kepada setiap orang yang bertaqwa, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah dalam al Quran Surat Ali Imran ayat 134 :

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Terjemah Kemenag 2019, QS. 3:134).

SEDEKAH

Sedekah secara bahasa, berasal dari kata “shidqoh” (bahasa Arab) yang artinya “benar”. Menurut tafsiran para ulama, orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya.  Jadi, sedekah adalah perwujudan sekaligus cermin keimanan. Pengertian dari sisi terminologi, sedekah berarti pemberian sukarela kepada orang lain (terutama kepada orang-orang miskin) yang tidak ditentukan jenis, jumlah maupun waktunya.  Sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain termasuk kategori sedekah.

Adapun sifat hukum dari sedekah adalah sunah, yaitu suatu suatu amalan yang apabila diamalkan (dikerjakan) akan mendapatkan pahala dan apabila tidak diamalkan (ditinggalkan) tidak akan mendapatkan dosa.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa, berbeda dengan Zakat yang ditentukan nisabnya, Infak dan sedekah tidak memiliki batas. Zakat ditentukan siapa saja yang berhak menerimanya sedangkan Infak dan sedekah boleh diberikan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Sedangkan dalam hal teknis pemberiannya, zakat, infak maupun sedekah itu boleh dinampakan ataupun disembunyikan. Allah berfirman :

اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. (akan tetapi,) jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (Terjemah Kemenag 2019, QS. 2:271).